Kue keranjang: Berkah Imlek bagi pedagang Pasar Pathuk

[dropcap font=”arial”]WARTAPASAR.COM, Yogyakarta -[/dropcap]Pertengahan Februari, tepatnya tanggal 10 lalu, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Di Yogyakarta, kemeriahannya bahkan sudah terasa beberapa hari sebelumnya. Beragam atribut Imlek yang didominasi warna merah sudah tampak terpasang di toko-toko kawasan pecinan seperti di Kampung Ketandan.

Berbeda halnya dengan situasi di Pasar Pathuk yang dikenal sebagai pasar pecinan. Tidak terlihat kemeriahan Imlek di sana. Wajah pasar tampak seperti biasanya. Hanya lantunan lagu-lagu bernuansa Tionghoa yang sempat diputar memunculkan kesan berbeda di pasar.

Meski begitu, Pasar Pathuk justru semakin ramai di saat Imlek. Beberapa makanan khas Imlek ada dijual di sana. Salah satunya, kue keranjang atau Nian Gao atau juga Ni-Kwe yang artinya kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali menjelang Imlek. Kue keranjang terbuat dari tepung ketan dan gula. Berbentuk bulat seperti tabung, kue keranjang memiliki tekstur yang kenyal serta lengket. Konon, kue keranjang sengaja dibuat untuk menyenangkan hati Dewa Tungku atau Cau Kun Kong. Harapannya, Dewa Tungku akan memberikan laporan yang baik kepada Raja Surga atau Giok Hong Siang Te tentang kebiasaan pemilik rumah dalam menyajikan masakan setiap harinya.

Menurut tradisi, kue keranjang diletakkan sebagai sesaji sejak tujuh hari menjelang Imlek. Kue tidak dapat dikonsumsi hingga malam ke-15 setelah Imlek atau saat perayaan Cap Go Meh. Lepas dari soal tradisi, permintaan kue keranjang yang tinggi saat Imlek memberikan berkah sendiri bagi para pedagang di Pasar Pathuk.

Tien Sulistiawati, pedagang kue di Pasar Pathuk mengatakan, ”biasanya saya dapat persediaan kue keranjang dari luar jogja, seperti Magelang, Tegal, dan Semarang. Kalau yang dari Jogja justru malah jarang sekali,” ujarnya. Tien menjual kue keranjangnya seharga Rp. 20 ribu yang berisi empat kue, dan Rp. 32 ribu yang berisi delapan kue. Dengan harga tersebut, kuenya selalu laris manis terjual.

Hanya dalam hitungan hari Tien Sulistiawati dapat meraih untung. Biasanya untungnya Rp. 2000 setiap kue keranjang yang berhasil dijual. “Untung yang didapatkan lebih besar saat menjual kue keranjang daripada kue-kue yang biasa. Tapi ini kan hanya setahun sekali. Meski begitu, saya tetap menjual jajanan kue-kue lainnya,” ujar Tien lagi.

Sementara itu, Dewi, salah seorang pembeli mengatakan, kue keranjang di Pasar Pathuk juga memiliki kualitas yang baik. Soal harga, juga cukup terjangkau. Biasanya, Dewi akan kembali mengolah kue keranjang sebelum disajikan bagi keluarganya. Kue keranjang akan dicampur dengan adonan telur serta tepung kemudian digoreng. Tekstur kue pun tak lagi lengket. Rasanya pun tetap manis namun gurih.

Kue keranjang memiliki makna filosofi yang dalam. Rasa kue yang manis mengartikan harapan manusia agar hidupnya selalu bertambah “manis” atau baik. Tektur kue yang lengket berarti harapan manusia agar senantiasa memiliki hubungan persaudaraan yang erat. Harapan dan doa ini muncul dari setiap simbol Imlek, tak terkecuali kue keranjang sebagai salah satu sesaji persembahan kepada dewa dan leluhur. [] Teks & Foto: Juliana Dutabella